“Jika
ada bahan bakunya, setiap hari saya bisa mencetak batu bata lebih
kurang lima ratus biji,” ungkap Rofiyat, salah seorang Ibu Ruma Tangga
warga desa Tempurejo, Kecamatan Blora, yang memiliki usaha sebagai
perajin batu bata sejak lebih 30 tahun lalu bersama Istono, suaminya.
Pasang surut sebagai perajin batu bata
dialami bersama puluhan perajin lainnya di desa setempat. Lambat laun
kesulitan lahan bahan baku berupa tanah liat mulai dirasakan, termasuk
harga bahan bakar juga mahal.
Jika
dulu tanah di sekitarnya bisa dijadikan bahan baku bata namun karena
sudah terlalu dalam dan sering diambil akhirnya tidak diteruskan.
Pasalnya kawatir longsor, apalagi yang lokasinya berdekatan dengan badan
jalan.
“Sekarang ini saya sudah
beli bahan baku tanah liat dari luar desa. Saya beli dari dukuh Merah
Desa Sitirejo. Satu truk tanah liat harganya Rp.225 ribu,” kata Istono,
suami Rofiyat, di Blora, Sabtu.
Meski demikian tidak semua perajin bata di Desa Tempurejo membeli bahan
baku tanah liat dari luar daerah karena kebanyakan masih memiliki lahan
atau kontrak lahan untuk memproduksi batu bata.
Jika bahan bakar kayu dulu mudah didapat dan digunakan, kini mereka
beralih dengan bahan bakar kulit gabah (brambut) yang harga tiap satu
truk Rp1.600.000,-
“Itu pun harus
antri untuk mendapatkan brambut. Jadi batu bata yang sudah kami cetak
ditimbun dulu kemudian kalau sudah mendapatkan bambut baru kita bakar.
Menggunakan brambut hasil pembakaran bisa lebih padat dan keras,”
tandasnya.
Pesanan, memang selalu
menanti sebagai bahan bangunan yang seakan tidak pernah berhenti. Namun
kondisi alam membuatnya harus mawas diri. Hal tersebut membuat harga
batu bata di desa Tempurejo mencapai lebih Rp.300 ribu per seribu
bijinya.
“Harga jual batu bata
sekarang Rp325 per seribu bijinya. Usaha batu bata hasilnya banyak,
tetapi lama untuk bisa menikmatinya. Tidak saya targetkan, jika ada
pesanan banyak para pembuat batu bata saling kerja sama,” ujar lelaki
paruh baya yang mengaku sebagai petani selain membuat batu bata.
Munawar, perajin batu bata lainnya juga merasakan hal yang sama.
Kesulitan bahan bakar menjadi kendala untuk proses pembakaran batu bata
yang diproduksinya. (DPPKKI Blora | tg).
